IRONI OAP DI AKHIR PEKAN

Dua hari lalu ketemu satu orang Papua di daerah pasar remu Sorong. Orang ini cerita kk bisa bantu saya uang 250 ka, saya tambah dengan sa pu uang, mau beli mesin babat untuk pake babat rumput , cari uang untuk sa pu anak sekolah. Saya bilang om saya hanya bisa bantu uang 200. Tidak genap 250.

Saat menulis opini ini 11 -03- 2017 satu orang Papua datang dengan kedaan sedih karena anaknya mengalami sakit infeksi pada bekas potongan tali pusat. Dia butuh uang dengan jumlah yang sama 250. Banyak diantara kita pasti selalu menjumpai hal-hal seperti ini.

Hanya 250 itu sulit baginya, tapi bagi OAP yang lain itu hanya untuk beli permen anak-anaknya, atau untuk main permainan di Ramayana Mall Sorong. Ini suatu ironi bagi kita yang gemar bicara rohani, aktif bribadah minggu dan Sholat Jumat.

Hati saya sedih tersayat-sayat mengapa segelintir orang mengelola dana otsus yang tidak menyentuh rakyat kita. Jaringan pengaman sosial seperti BPJS, KIS, KIP tidak bisa di manfatkan oleh mereka, saudara/i kita OAP.

Kalaupun hak mereka sudah dijamin dalam program pemerintah (BPJS, KIS, JAMKESMAS, KARTU INDONESIA PINTAR / KIP) tetapi mengapa mereka tidak mengaksesnya..? Kemiskinan yang kita alamai sesunguhnya bukan soal pendapatan per hari dan per bulan tetapi juga pengetahuan.

Pengetahuan akan apa yang menjadi hak rakyat. Rakyat harus di edukasi agar mengenal dan memanfaatkan hak mereka dengan baik, agar tidak dicaplok oleh penjahat birokrasi.

Otsus yang adalah harga tawar antara merdeka atau tidak, dalam bahasa kasar uang denda darah rakyat Papua sejak 1961 hingga hari ini harus di pastikan menyentuh setiap jiwa orang Papua di Sorong raya. Kata Lukas Enembe satu nyawa orang Papua mahal harganya. Satu meninggal maka haqk tanah dia, hak ulayat Dia menjadi tak bertuan.

Otsus sudaj berjalan 15 Tahun lebih, sebentar lagi akan berakhir, mengapa orang kita seperti tidak di proteksi dan di lindungi dengan baik..? Siapa yang salah dalam hal ini…? Jakarta bilang uang dan kewenangan sudah kami berikan, OAP yang salah sendiri. Saling lempar tanggung jawabpun terjadi.

Banyak Yayasan Didirikan tetapi entah kemana Dana Hibah yang digelontorkan entah dimana kerja-kerjanya. Organisasi pemuda dan akitivis yang menjadi bentang pertahanan rakyat menjadi elitis dan pragmatis.

Kita menjadi hedon dan individualistis, tidak memikirkan saudara/i kita. Alkitab bilang jangan bilang engkau mengasihki Aku kalau saudaramu sendiri tidak kau kasihi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s