Arsip Bulanan: Oktober 2016

Ini Cerita Selanjutnya Dari Polemik Misterius Pemecatan Yan Mandenas

14725743_183983668715145_3849672928153274113_nDalam analisa singkat saya sebelumnya, dengan hipotesis pendek bahwa Wiranto dalam kekuasaannya akan mnghibahkan ketua partai Hanura kepada siapa saja yang dapat menjadi agen dalam mendukung kekuasaannya.

Ya, saya sebut dengan kata “Menghibahkan” Menghibahkan dalam pengertian ini adalah memberikan kepemimpinan gratis kepada darah baru (agen baru) yang bisa mengamankan kepentingan negara maupun kepentingan pribadinya, walaupun itu melanggar mekanisme organisasi Partai Hanura.

Jika sebelumnya Yan Mandenas adalah agen, juru lapangan bagi kerja politik kanan untuk mengimbangi kaum kiri di kampus Uncen, maka Kini Hengky Kayame adalah aktor lapangan untuk meredam bahkan menghilangkan sama sekali kasus HAM Paniai berdarah yang mencoreng muka Indonesia di mata dunia.

Ada benang merah kemiripan proses Yan Mandenas Menjadi Ketua Partai HANURA dan Hengky Kayame Mengantikannya. Benang merahnya adalah, ketika reformasi UNCEN adalah pangung politik Papua yang mengemparkan, membumikan isu Papua. Pada masa transisi reformasi, Aktivis Muda UNCEN bahkan Kota Jayapura gencar mendorong Isu Papua Merdeka. Nyaris tak ada penangkalnya.

Ditengah gejolak politik kaum muda dan Kampus ini, Wiranto yang kala itu menjabat sebagai panglima ABRI dan Pangkostrad membidik Yan Mandenas sebagai agen lapangan untuk mengibangi politik kiri di kampus UNCEN. Tak lama setelah itu Wiranto Pensiun dan mendirikan Partai Hanura. Mandenas diberi posisi bergengsi ” Ketua DPD Hanura”. Yan Mandenas pun makin tenar dan gilang gemilang dalam kancah perpolitikan lokal Papua.

Kini Yan Mandenas di lengserkan dalam suatu operasi politik inheren partai, pemberhentian yang Inkonstitusional. Yan digantikan dengan Hengky Kayame. Motif pergantian Yan Mendenas kepada Kengky juga tak lain adalah motif mengamankan kekuasaan Wiranto dan menyelamatkan muka negara yang tercoreng akibat kasus Paniai berdarah.

Apa legitimasi Kayame..? Jelas Kayame adalah Kepala daerah yang rakyatnya ditembak dan dibunuh oleh Aparat. Tuntutan keluarga korban langsung di Ambil alih oleh Hengky Kayame sebagai Bupati. Tak tangung-tangung hengky Kayame menantang negara ” Saya akan lepaskan Garuda di dada kalau Pemerintah Tidak Tuntaskan Kasus Penembakan terhadap Warganya”. Ini inti poin legitimasinya. Pada masa Luhut Panjaitan kasus ini sempat menjadi konsentrasinya walau tak tuntas dibereskanya.

Luhut di Ganti oleh Wiranto, kasus ini menjadi beban/ PR Bagi Wiranto untuk diselesaikan sebagai ajang menunjukan eksistensinya, bahkan menunjukan kepada Presiden Jokowi Bahwa Tidak sia-sia menempatkanya di KEMENKOPOLHUKAM.

Kalau membaca pola politik Wiranto seperti ini, inilah gaya dan ciri khas konspirasi. Agen direkrut dan diberikan tugas / Misi. Setelah misi diselesaikan hanya ada dua hadiah atau hukuman (reward and punishment). Anda di butuhkan dan diperlakukan penting, setelah itu misinya di pindahkan ke orang lain. Kita lihat Kengiky Kayame Tergoda dengan posisi partai yang strategis dan kembali mengorbankan masyarakatnya sendiri.
Semoga Ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa elit nasional tak semudahnya mempermainkan kita dalam politik dan skenario pengalihan isu. Kita musti cerdas, mari berdiskusi agar kita menjadi cerdas dan tidak dibodohi lagi.

Elit politik Papua tak boleh melakukan transaksi isu HAM Papua dengan jabatan dan kepentingan politik praktis semata. Tangung jawab Kita bukan semata-mata untuk Rakyat Papua tetapi kepada TUHAN SEMESTA ALAM.

Agustinus Kambuaya

Iklan