UNIVERSITAS OTTOW GEISSLER KAMPUS PERADABAN YANG DILUPAKAN

 download

Syukur Bagimu Tuhan Kau Beri Tanah Yang Kaya, Hutan, Gunung, Laut, Rawa, Sungai memberi kami hidup yang melimpah.

Universitas Ottow Geissler (UOG) adalah universitas peletak peradaban orang Papua, judul ini terkesan sedikit hiperbola, sebab pembangunan sumberdaya manusia Papua bukan hanya dilakukan oleh UOG, ada banyak kampus lain yang ikut menentukan maju mundurnya sumberdaya orang Papua. Universitas Cenderawasih (UNCEN), Universitas Negeri Papua (UNIPA) dan masih banyak kampus lainnya yang ikut memberikan kontribusi perkembangan sumberdaya manusia Papua. Universitas Cenderawasih dan UNIPA adalah kampus negeri yang didirikan pemerintah dalam rangka kampanye nasionalisme dan eksistensi NKRI di Tanah Papua. Sementara UOG didirkan dalam koteks dan spirit yang berbeda yaitu spirit agama atau misi sending GKI ditanah Papua.

Keberadaan Universitas Ottow Geissler tidak terlepas dari semangat pekabaran injil ditanah Papua. Oleh karena itu, Universitas Ottow Geissler patut ditempatkan sebagai kampus penentu peradaban di Tanah Papua. Perubahan manusia Papua dari masyrakat feodal menuju masyarakat modern bukan dilakukan oleh pemerintah kolonial belanda maupun Indonesia. Misi pekabaran Injil dengan sekolah keguruan (guru penginjil) ODO Dan SMEF lah yang telah berhasil membebaskan orang Papua dari buta huruf dan buta aksara. Ini adalah togak penting dalam sejarah peradaban dan kehidupan orang Papua.

Universitas Ottow Geissler dihadirkan melalui proses yang panjang, dimulai dengan didirikanya Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Ottow & Geissler pada tahun 1981 oleh Yayasan Ottow Geissler (YOG) di tanah Papua. Yayasan Ottow Geissler dibentuk oleh sinode GKI Di Tanah Papua pada tahun 1980, hingga peningkatan status menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIEO OGE) Jayapura. Perjuangan STIE OGE untuk menjadi Universitas cukup melelahkan dan lama. Perjuangan panjang sejak 1980 akhirnya terwujud oleh Kemendiknas, melalui Dirjen Pendidikan Tinggi dengan nomor 52/E/O/2001 pada tanggal 23 Maret 2011 dan diresmikan pada tangal 3 juni 2011 oleh Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Prof.Dr.Mohamad Nuh, DEA.

Dari sisi historis, berdirinya kampus UOG lebih muda usianya  karena didirikan pada tahun 1980 dibanding  UNCEN dan  UNIPA yang didirikan tahun 1962. Namun secara spirit pelayanan kepada masyrakat Papua, Universitas UOG menjadi satuan dari misi pelayanan sending Ottow Geissler yang meletakan dasar peradaban orang Papua. Sebagai Universitas Kristen Swasta, Universitas Ottow Geissler mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama yaitu 1980- 2016. Banyak lulusan telah dihasilkan dari Universitas ini. Universitas Ottow Geissler adalah wujud dari aktualisasi spiritual kedalam kehidupanya nyata sumberdaya manusia. Spirit membangun manusia Papua menjadi tuan dinegeri sendiri telah terwujud, lebih dari 10 ribu lebih lulusan berhasil dicetak dikampus ini

Pembangunan Universitas Ottow Geissler ini tidak terlepas dari spirit menghadirkan syalom Allah dimuka bumi. Damai dan sejahtera yang dihotbahkan dimimbar-mimbar gereja kemudian dimanifestasikan dalam bentuk nyata berupa Universitas. Pembangunan sumberdaya manusia  Papua terlebih dahulu dibangun oleh misi sending GKI ditanah Papua. Universitas Ottow Geissler adalah pekembangan pendidikan tingkat lanjutan dari jenjang pendidikan sebelumnya yaitu ODO di Serui, SMEF dan Yayasan Pendidikan Kristen (YPK). Pejuangan pelayanan pendidikan yang berjalan sejak masa pekabaran injil ini membuktikan bahwa Universitas Kristen Ottow Geissler adalah sekolah peradaban orang Papua.

Nasib Universitas Ottow Geissler Di Era Otsus

Agin segar reformasi yang melahirkan turunan otonomi khusus tidak serta merta memberi energy baru bagi STIE OGE. Esensi otsus yang mengamanatkan pembangunan di fokuskan pada 4 program unggulan yaitu kesehatan, infrasktur, pemberdayaan ekonomi dan pendidikan. Dibidang pendidikan pemerintah gencar membuat banyak program beasiswa. Melalui beasiswa dan program seribu doktor telah berhasil menyekolahkan banyak putra-putri Papua ke dalam dan luar negeri. Program kursus Bahasa asing sebagai prasyarat mendapatkan beasiswa luar negerupun disediakan.

Tidak terbatas pada program non fisik, program fisikpun dilakukan. Pembangunan infrastruktur fisik untuk mendukung pendidikan bermutu seperti pembangunan asrama, pembangunan sekolah serta penyediaan beasiswa juga gencar dilakukan. Dalam benak pemerintah apapun dilakukan untuk menepis image bahwa Papua tertinggal, miskin dan bodoh. Banyak sekolah disubsidi hingga jenjang pendidikan tinggi. Universitas ternama menjadi target dan tujuan program gerbang mas Papua. Didalam negeri Universitas seperti UI, UGM diajak bekerjasama untuk menyekolahkan anak-anak Papua. Universitas lokal seperti UNCEN, UNIPA juga tak luput dari perhatian pemerintah, program alokasi dana otsus juga dikucurkan.

Ditingkat lokal UNCEN dan UNIPA menjadi kampus impian semua lulusan SMA di tanah Papua.  Menyandang status sebagai kampus negeri yang lama bercokol ditanah Papua membuat posisi UNCEN seolah tidak tersingkirkan. Perhatian banyak kalanganpun hanya tertuju pada UNCEN dan UNIPA. Menyadari status sebagai kampus ternama gelagat pembangunan fisik kedua kampus ini terus digenjot, program kerjasama pemerintah daerah lokal untuk menyumbangkan dana berupa program kerjasama dan lain sebagianya terus usahakan. Alhasil kampus UNCEN dan UNIPA megah berdiri dengan tenaga pengajar yang bergelar doktor dan magister. Ditengah kisah sukses ini, tentaga tua Universitas Ottow Geissler berdiiri lesu bagai manusia kekurangan gisi. Segi fisik Universitas Ottow Geissler kusam, luntur dimakan rayap, tenaga pengajar berkutat dan bergumul dengan biaya pendidikan dan kesejahteraan.

Universitas ini seolah dilupakan dalam ingatan semua komponen orang Papua. Program kerjasama pemda dalam hal asistensi maupun pendampingan teknis, pemerintah lokal lebih percaya kepada Universitas di luar Papua, kalaupun universitas lokal Papua hanya UNCEN dan UNIPA yang menjadi rujukan penelitian, pengkajian dan pengabdian. Memang statusnya sebagai kampus swasta, tetapi jika ditelisik dari sisi spirit, kampus ini lekat dengan misi sending yang telah meletakan fondasi peradaban orang Papua. Oleh sebab itu tidak menjadi alasan bagi siapapun baik orang Papua yang ada di Pemerintahan, yang bekerja di Freeport, BP dan sector swasta lainya untuk memberi perhatian kepada kampus ini.

Situasi semakin memiriskan ketika, Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS) yang telah berubah menjadi Universitas tengah melakukan promosi program doktor dengan tenaga pengajar yang mumpuni, fasilutas bangunan yang memadai (represntatif), sementara Universitas Ottow Geisler tetap berjalan dengan fasilitas yang disediakan pada awal tahun 1980-an. Saat ini Tren masuk Universitas Cenderawasih yang tinggi membuat kuota penerimaan UNCEN tidak mampu menampung mahasiswa sehingga kadang menjadi kontradiksi yang berujung demo. Bagi calon mahasiswa tidak masuk Uncen adalah kiamat sebab tidak akan menikmati fisilitas yang lengkap serta akses beasiswa yang memudahkan. Ditengah situasi seperti ini institusi pendidikan alternnatif seperti STIE OGE adalah solusi utama untuk putra-putri Papua.

Jika kita adalah orang yang ma uterus belajar, maka mari kita mencoba belajar dari Universitas Pelita Harapan (UPH)  Jakarta atau Universitas Taruma Nagara (UNTAR). Sebagai kampus swasta Kristen (UPH) serta kampus Taruta Nagara Miliki kelopok Tionghoa, mereka menyadari betul keberdaan mereka sebagai Institusi pendidikan yang berada ditengah ibu Kota Negar,a yang bersaing dengan banyak Universitas. Untuk itu, membenahi diri secara fisik (infrastrutkru), serta supra struktur (SDM) diprogramkan dengan serius untuk mencapai universitas unggulan yang menjadi pilihan utama warga DKI.

Universitas Taruna Darma misalnya Gencar Mencari donasi dari kelompok penngusaha Tionghoa yang bersedia menginvestasikan dana mereka  dengan mekanisme sharing profit yang saling menguntungkan. Melalui metode demikian, kampus Taruna Darma terus dikembangkan baik secara fisik maupun secara sumberdaya manusia. Keseriusan membangun perguruan tinggi yang bermutu ini telah berhasil menghantarka Univesitas Taruma Nagara sebgaai kampus bertaraf internasional. Sementara UPH, melalui donasi gereja (Derma) serta pengalangan dukungan serta investasi membuat kampus ini menjadi kampus yang mampu bersaing dengan kampus negeri dan swasta di Jakarta.

Hal yang sama bisa dilakukan di terhadap Universitas Ottow Geissler sebagai kampus peletak peradaban orang Papua. Tnagung jawab memajukan kampus ini bukan saja milik GKI ditanah Papua, tetapi semua orang yang berdiam ditanah Papua harus ikut berpikir tentang kemanjuan kampus ini. Mengingat keistimewaannya sebagai penerus tonggak sejarah peradaban orang Papua yang diletakan oleh Ottow Geissler, kampus ini sudah saatnya didorong oleh semua pihak untuk menjadi sekolah pilihan utama orang Papua. Disaat semua isntitusi berorientasi menjadi industry pendidikan yang mengutamakan profit sehingga membuat kesenjangan sosial akibat kapitaslime pendidikan, kampus ini harus dihidupkan sebagai smbol pelayanan yang sesungguhnya. Goresan yang tidak sempurna ini bertujuan mengangkat kampus ini sebagai institusi alternatif yang murah ditengah mahalnya dunia pendidikan kita. Ada beberapa langkah strategis untuk mengembalikan kejayaan kampus ini diantaranya:

  1. Mendorong Pemerintah Untuk Mengalokasikan Dana Bagi Pembangunan Secara fisik
  2. Membentuk Perda Pelindungan yang memberikan perhatian khusus pendidikan yang dirintis oleh penggil-penginjil ditanah Papua
  3. Mendorong sector swasta seperti PT.Freeport Indonesia untuk mendonasikan dana bagi pembangunan fisik maupun beasiswa
  4. Kampanye dikalngan pengusaha Papua yang sukses untuk mau menanmkan modal mereka dengan mekanisme yang longer dan mudah di Universitas UOG.
  5. Mendorong GKI untuk mebuat derma khusus Pembangunan Universitas Ottow Gissler serta menyediakan beasiswa.

Selamat berdiskusi, baca dan sebarkan hingga menjadi perhatian Pemerintah Daerah.

 

Oleh: Agustinus R. Kambuaya

 

 

REPRESIFITAS NEGARA TERHADAP MAHASISWA PAPUA DI YOGYAKARTA

13728897_1018928288197920_3710334012176047814_n

Tak Ada Lagi Lagu Yang Indah Di Malioboro.

Jogja Tak Lagi Berhati Nyaman. Ketika itu saya bersama saudara/i Papua turun jalan ikut menyuarakan aspirasi rakyat Jogja. Jogja Refrendum. Kala itu semangat referendum bukan gagasan murni yang digalangkan, tetapi Jogja referendum digagas karena sakit hati warga Jogja terhadap pernyataaan SBY bahwa Indonesia ini negara demokrasi, tidak ada monarki absolut seperti Jogjakarta.

Pernyataan ini sontak membuat hati warga Jogja tersayat-sayat, mirisnya hati rakyat Jogjakarta ini membuat warga Jogja marah dan ingin memisahkan diri. Tak heran, ingatan sejarah masa lalu seperti Jogja adalah negara sendiri dengan nama ” Nagari Hadinigrat Ngayokyakarto” sebuah negara merdeka yang meminta bergabung dengan NKRI, dengan syarat statusnya dijadikan daerah istimewa.

Sebagai beban moril anak-anak rantau yang menghargai keberadaan keraton Mataram dan pakualam, kami dari Papua dan Papua Barat serta semua Indonesia timur raya ikut memberi dukungan moril bersama rakyat Jogja melakukan aksi Prtotes di halaman kantor gubernur (Kepatihan)Yogyakarta. Ini wujud penghormatan kami terhadap budaya, eksistensi dan demokrasi masyrakat Jogja.

Hasilnya Presiden Susilo Bambang Yudoyonopun melakukan permintaan maaf secara resmi. Bagi kami NKRI adalah konsensus dari masyrakat lokal untuk membentuk sebuah negara. Selain merepresentasikan unsur kebudayaan yang diintegrasikan kedalam NKRI, sejarah penderitaan dan ketidak adilan yang sama juga kami masyrakat Papua alami. Ini dasar filosfis yang mendorong kami mendukung masyarakat Jogja. Pernyataan SBY bagi kami benar-benar menginjak-injak harga diri Sri Sultan Hamengku Buono ke X dan Sri Pakualam.

Jogja Tak Lagi Berhati Nyaman.

Bagi kami, warga Jogja dengan slogan Jogja Berhati nyaman adalah slogan simbol kemanusian warga Jogja. Seluruh tanah Jawa orang Jogja adalah jawa sesunguhnya karena memegang teguh pada filosfi hidup kejawen dan filsafat sosial jawa seutuhnya.

Aapa yang terjadi pada Saudara/i kami di Jogjakarta membuat kami miris dan kecewa terhadap pemerintah Kota dan Provinsi Jogjakarta. Sebab anak-anak Papua bisa mendukung aspirasi mereka, tetapi sebaliknya mereka tidak mendukung dan menjamin kebebasan berdemokrasi bagi mahasiswa Papua disana.

Aspirasi mahasiswa Papua jelas mendukung ULMWP, Suatu gerakan politik rakyat Papua yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Jelas ini tindakan mengancam keutuhan NKRI, tetapi sisi demokrasi kebebasan berpendapat dimuka umum yang tertuang dalam piagam PBB Tentang Hak ekosob (Freedom For Speak), dipahami dan diimplementasikan baik oleh semua pihak.

Tindakan ratusan anggota kepolisian yang menghadang Asrama Mahasiswa Papua di Jl. Kusuma Negara ini benar-benar menunjukan sikap kekerasan negara terhadap aspirasi rakyat Papua. Kondisi ini semakin ironis dengan upaya membatasi bantuan dari palang merah kepada mahasiswa Papua yang terisolasi di dalam Asrama. Mahasiswa menderita kelaparan, trauma, kesakitan secarafisik akibat pukulan dan lain sebagainya.

Sejarah panjang penindasan NKRI Selama tiga setegah abad mestinya menyadarkan kita tentang apa arti kata kemanusian dan demokrasi yang sesunguhnya. Yang terjadi justru sebaliknya, setelah megusir penjajah kolonial Belanda, kita justru mempraktekan apa yang mereka lakukan. Membungkam ruang demokrasi, ototriter dan lain sebagainya. Pendekatan militer yang dominan telah membuat citra Indonesia dipandang buruk dalam pergaulan Internasional, mestinya ini menjadi pelajaran

Pendekatan militer yang dominan terhadap isu Papua ini jelas bertentangan dengan spirit demokrasi yang didengungkan negara. Negara mengklaim sebagai negara demokrasi, penghormatan dan pemajuan hak asasi manusia sudah berjalan baik, kenyataa justru sebaliknya.

Tindakan-tindakan aparat menganiaya mahasiswa tentu menghasilkan dua kenyataan yang berbeda. Disatu sisi menciptakan ketakutan bagi masyrakat Papua. Sebaliknya, represivitas negara yang berlebihan ini akan menjadi martir dan bom yang terus membangkitkan semangat perlawanan masyrakat Papua. Tindakan-tindakan ini akan menjadi minyak pembakar mesin perjuangan Papua merdeka.

Agustinus.R.K.

KEKERASAN MILITER TERHADAP MAHASISWA PAPUA DI YOGYAKARTA

13728897_1018928288197920_3710334012176047814_n

Tak Ada Lagi Lagu Yang Indah Di Malioboro.

Jogja Tak Lagi Berhati Nyaman. Ketika itu saya bersama saudara/i Papua turun jalan ikut menyuarakan aspirasi rakyat Jogja. Jogja Refrendum. Kala itu semangat referendum bukan gagasan murni yang digalangkan, tetapi Jogja referendum digagas karena sakit hati warga Jogja terhadap pernyataaan SBY bahwa Indonesia ini negara demokrasi, tidak ada monarki absolut seperti Jogjakarta.

Pernyataan ini sontak membuat hati warga Jogja tersayat-sayat, mirisnya hati rakyat Jogjakarta ini membuat warga Jogja marah dan ingin memisahkan diri. Tak heran, ingatan sejarah masa lalu seperti Jogja adalah negara sendiri dengan nama ” Nagari Hadinigrat Ngayokyakarto” sebuah negara merdeka yang meminta bergabung dengan NKRI, dengan syarat statusnya dijadikan daerah istimewa.

Sebagai beban moril anak-anak rantau yang menghargai keberadaan keraton Mataram dan pakualam, kami dari Papua dan Papua Barat serta semua Indonesia timur raya ikut memberi dukungan moril bersama rakyat Jogja melakukan aksi Prtotes di halaman kantor gubernur (Kepatihan)Yogyakarta. Ini wujud penghormatan kami terhadap budaya, eksistensi dan demokrasi masyrakat Jogja.

Hasilnya Presiden Susilo Bambang Yudoyonopun melakukan permintaan maaf secara resmi. Bagi kami NKRI adalah konsensus dari masyrakat lokal untuk membentuk sebuah negara. Selain merepresentasikan unsur kebudayaan yang diintegrasikan kedalam NKRI, sejarah penderitaan dan ketidak adilan yang sama juga kami masyrakat Papua alami. Ini dasar filosfis yang mendorong kami mendukung masyrakat Jogja. Pernyataan SBY bagi kami benar-benar menginjak-injak harga diri Sri Sultan Hamengku Buono ke X dan Sri Pakualam.

Jogja Tak Lagi Berhati Nyaman.

Bagi kami, warga Jogja dengan slogan Jogja Berhati nyaman adalah slogan simbol kemanusian warga Jogja. Seluruh tanah Jawa orang Jogja adalah jawa sesunguhnya karena memegang teguh pada filosfi hidup kejawen dan filsafat sosial jawa seutuhnya.

Aapa yang terjadi pada Saudara/i kami di Jogjakarta membuat kami miris dan kecewa terhadap pemerintah Kota dan Provinsi Jogjakarta. Sebab anak-anak Papua bisa mendukung aspirasi mereka, tetapi sebaliknya mereka tidak mendukung dan menjamin kebebasan berdemokrasi bagi mahasiswa Papua disana.

Aspirasi mahasiswa Papua jelas mendukung ULMWP, Suatu gerakan politik rakyat Papua yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Jelas ini tindakan mengancam keutuhan NKRI, tetapi sisi demokrasi kebebasan berpendapat dimuka umum yang tertuang dalam piagam PBB Tentang Hak ekosob (Freedom For Speak), dippahami dan diimplementasikan baik oleh semua pihak.

Tindakan ratusan anggota kepolisian yang menghadang Asrama Mahasiswa Papua di Jl. Kusuma Negara ini benar-benar menunjukan sikap kekerasan negara terhadap aspirasi rakyat Papua. Kondisi ini semakin ironis dengan upaya membatasi bantuan dari palang merah kepada mahasiswa Papua yang terisolasi di dalam Asrama. Mahasiswa menderita kelaparan, trauma, kesakitan secarafisik akibat pukulan dan lain sebagainya.

Sejarah panjang penindasan NKRI Selama tiga setegah abad mestinya menyadarkan kita tentang apa arti kata kemanusian dan demokrasi yang sesunguhnya. Yang terjadi justru sebaliknya, setelah megusir penjajah kolonial Belanda, kita justru mempraktekan apa yang mereka lakukan. Membungkam ruang demokrasi, ototriter dan lain sebagainya. Pendekatan militer yang dominan telah membuat citra Indonesia dipandang buruk dalam pergaulan Internasional, mestinya ini menjadi pelajaran

Pendekatan militer yang dominan terhadap isu Papua ini jelas bertentangan dengan spirit demokrasi yang didengungkan negara. Negara mengklaim sebagai negara demokrasi, penghormatan dan pemajuan hak asasi manusia sudah berjalan baik, kenyataa justru sebaliknya.

Tindakan-tindakan aparat menganiaya mahasiswa tentu menghasilkan dua kenyataan yang berbeda. Disatu sisi menciptakan ketakutan bagi masyrakat Papua. Sebaliknya, represivitas negara yang berlebihan ini akan menjadi martir dan bom yang terus membangkitkan semangat perlawanan masyrakat Papua. Tindakan-tindakan ini akan menjadi minyak pembakar mesin perjuangan Papua merdeka.

Agustinus.R.K.