Arsip Bulanan: Mei 2016

KNPB DUKUNG ANGGOTA PENUH ULWP DI MSG

13310506_1088452557902718_7883353854784206711_n

Ribuan Masa Aksi Yang Tergabung Dalam Komite Nasional Rakyat Papua Barat (KNPB) di Jayapura Turun Ke Jalan Memadati Jalan Perumnas III Waena, dan berjalan kaki menuju Abepura. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk dukungan kepada Negara-negara anggota MSG untuk Menerima ULWP sebagai anggota penuh (Full Member

Iklan

JOSE

A.R.K News

Long Life For West Papua

Senin, 07 Maret 2016

PEMEKARAN, DEVIDE ET IMPERA GAYA BARU

Oleh: John NR Gobai

Pengantar

Idealnya pemekaran dilakukan untuk mendekatkan rentang kendali pemerintahan dan pembangunan, namun dalam kenyataan pemekaran terjadi untuk kepentingan elit, hal itu lebih disebabkan karena, gagal dalam PILKADA, tidak mendapatkan jabatan sehingga alasan daerah belum dibangun menjadi peluru untuk membangun wacana pemekaran, kadang kala juga pemekaran terjadi karena kepentingan ekonomi atau investasi.

John NR Gobai

Gambaran yang terjadi pada waktu lalu, dalam perencanaan perkawinan poligami di daerah pegunungan, yaitu sebagai berikut; jika seorang bapak ingin melakukan poligami, idealnya dia akan menyiapkan lahan, rumah, perahu, alat dapur bagi istrinya yang baru, setelah semua siap barulah bapak ini akan terbuka kepada istrinya atau disampaikan kepada orangtua dari si gadis, jika belum maka bapak ini tidak akan berani. Itu tadi gambaran masa lalu, yang ingin saya katakan dijaman modern ini perencanaan adalah penting, namun pemekaran yang terjadi malah membuat masalah antara lain adanya masalah tapal batas yang tidak pernah tuntas, adanya pencaplokan wilayah oleh wilayah tetangga dan masyarakat di nabire, timika, sentani susah untuk pulang karna tak ada pesawat,tingginya harga tiket, sidang-sidang dan rapat-rapat penting kabupaten pemekaran yang dilakukan dihotel-hotel di kota Jayapura.

Dibalik alasan itu, dalam kenyataan juga pemekaran mempunyai dampak yang kurang baik juga bagi masyarakat, walaupun kami juga tidak dapat menutup mata bahwa pemekaran juga mempunyai dampak positif bagi masyarakat.

Dampak negatif pemekaran

Pemekaran telah memberikan dampak bagi masyarakat adat di Papua, antara lain:

  1. Masyarakat Adat menjadi korban kekerasan atas nama pembangunan dan pemerintahan, akibat penggunaan aparat keamanan sebagai pengaman menghadapi masyarakat yang masih lugu dan polos. Contohnya. Pos Brimob, Timsus TNI AD, dll lalu adanya ajudan dari pimpinan SKPD
  2. Bertambahnya jumlah aparat keamanan di kampung, akibatnya kampung yang dahulu sunyi menjadi ramai dengan bunyi-bunyian tembakan sehingga melahirkan kekerasan yang berujung kepada Pelanggaran HAM.
  3. Melahirkan dua kelompok dalam masyarkat yaitu, kelompok orang asli dan orang pendatang, yang tentunya berpengaruh dalam pembangunan dan pemerintahan.
  4. Memunculkan ego antar daerah, sehingga orang tertutup dalam ego daerahnya, sehingga muncul kamu orang paniai, kami orang nabire; jangan calon di sini karena kamu bukan putra daerah.
  5. Memunculkan elit yang membuat adanya dendaman dari kelompok yang lain terutama mereka yang tidak memperoleh jabatan.
  6. Membuka lahan korupsi baru bagi para pejabat dan juga konspirasi pejabat pemerintah dengan pengusaha.
  7. Memunculkan ketergantungan masyarakat kepada pemerintah dengan adanya dana, memupus budaya kerja dalam adat; sehingga muncul budaya malas.
  8. Muncul kelompok kelompok yang dapat dijadikan alat dalam mencapai tujuan para elit politik di daerah, sehingga tercipta kelompok pro dan kontra yang menggannggu relasi sosial dalam masyarakat.
  9. Terbentuk kelompok yang menjadi elit lokal untuk menekan pemerintah dan menghambat kelompok masyarakat lainnya.
  10. Menghadirkan pedagang non papua dengan semangat bisnis yang tinggi, yang menggeser pedagang lokal.
  11. Memberikan peluang berusaha bagi masyarakat non local seperti kontraktor yang sebenarnya tidak mampu secara tekhnis, untuk mencari peluang usaha atau peluang mencari uang melalui proyek pemerintah, yang mengakibatkan kualitas proyek menjadi jelek.
  12. Memberikan peluang bisnis kepada pebisnis non local, karena system kongsi dalam dagang yang dibangun oleh pedagang non local akan menggeser pedagang local, lebih parah lagi jika mereka memberikan uang jasa pengamanan, kepada aparat keamanan, sehingga mengakibatkan dendaman dan kebencian dalam masyarakat.
  13. Hutan-hutan yang menjadi penyangga, hutan-hutan keramat, tempat keramat menjadi rusak karena pembangunan.

Penutup

Bagi yang mengurus Pemekaran pasti tidak menyenangi ulasan ini, tetapi inilah kenyataan. Menurut saya yang penting adalah pembangunan dilakukan merata dimulai dari daerah yang terpencil, angka korupsi harus ditekan dengan aparat pemerintah harus diawasi ketat agar pembangunan jalan dengan baik, menempatkan pejabat sesuai dengan kemampuan bukan balas jasa atau politis,aparat pemerintah yang ada harus mau belajar agar mampu kerja pada tugasnya sehingga pembangunan maksimal, aparat pemerintah harus mampu memahami kebutuhan pembangunan menjawab kebutuhan rakyat, sehingga pembangunan menjawab kebutuhan rakyat.

Namun dibalik itu menurut saya pemekaran perlu direncanakan secara baik dalam kerangka Grand Design Pemekaran, yang meminimalisir konflik dan menempatkan orang papua yang adalah masyarakat adat adalah yang utama dan perlu diakui dan dihormati, sehingga penting dilakukan secara baik oleh pemerintah pusat untuk pemekaran provinsi tentunya dengan memperhatikan pertimbangan Pemerintah Provinsi Induk dan pemekaran kabupaten dilakukan oleh Pemerintah Provinsi, tentunya dengan memperhatikan pertimbangan Pemerintah Kabupaten Induk dalam kaitan dengan pemekaran di papua.

Pe

KAIN TIMUR DIMATA MASYARAKAT MAYBRAT

IMG_0473

Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi, kaya alamnya dan kaya juga akan budaya dan adat isti adat suku-sukunya. Masyarakat Papua terdiri dari 319 suku yang tersebar di seluruh tanah Papua. Belanda yang kala itu masuk ke Papua melihat suku-suku yang tersebar memiliki ckhiri khas yang mirip bahkan sama dibeberapa daerah di Papua, Belanda kemudian mengelompokan adat isti adat ini kedalam 7 wilayah adat. Wilayah kepala burung Maybrat termasuk dalam wilayah adat Domberay yang terdiri dari 52 suku.

Kain Timor adalah salah satu tradisi masyarakat Maybrat yang paling menonjol di wilayah adat Domberai. Dalam kehidupan masyarakat Maybrat kain timur menjadi pusat nilai tertinggi disamping nilai filosofi hidup lainnya. Keseharian masyarakat seperti upacara adat, ritual, barter (perdagangan), pembayaran mas kawin, seni tari, semuanya menjadikan kain Timor sebagai standar ukuran tertinggi. Semua segi kehidupa sosial masyarakat Maybrat bertumpu pada kain Timor, kehidupan mereka terasa tidak lengkap jika tidak beriringan dengan kain timur. Mungkin bagi pandangan masyarakat non Maybrat Kain Timor hanyalah benda kain yang sama dengan kain-kain pada umumnya, namun bagi masyarakat Maybrat kain Timur Maybrat menjadi sentral adat tertinggi dan berhubungan langsung dengan hidup, kekayaan, prestis, kekauasaan dan kebahagian psikologis mereka.

Sejarah Kain Timor Maybrat

Kain Timor begitulah masyarakat Maybrat menyebutnya, secara historis asal usul kain Timor Maybrat memiliki beberapa fersi. Menurut Max Mayr Kambuaya salah satu tokoh masyarakat Maybrat, senior birokrasi yang lahir diera 1940-an, menuturkan bahwa kain Timor Maybrat adalah kain yang dibawa oleh para pedagang dan pelaut Portugis dari wilayah NTT. Menurut Max Mayr Kambuaya, kala itu belum ada mata uang yang digunakan sebagai alat bayar sehingga para pelaut portugis yang masuk ke wilayah Domberai mengunakan Kain Timor untuk menukarnya dengan burung kuning, rempah-rempah dan lain-lain. Kain timor hasil pertukaran dengan burung kuning dan rempah-rempah ini mulai dijadikan barang bernilai yang digunakan untuk membayar dan menukar barang, lama-kelamaan kain timour  menyebar dari Fak-fak dan Inanwatan ke wilayah Moi, Tehit, Sawiat hingga ke Maybrat. Kain Timor kemudian di Populerkan sebagai barang bernilai. Selain menyebar ke wilayah Maybrat, kain Timur juga tersebar melalui perdagangan hingga ke wilayah Doreri, terutama suku-suku Mandacan di Mnukwar.

Meski kain Timor dianggap sebagai barang hasil migrasi yang masuk melalui perdagangan ke Papua, bagi orang Maybrat masih ada fersi lain. Menurut masyarakat Maybrat kain-kain Timur bernilai tinggi seperti Wansafe atau Sarim (sebutan nama kain menurut orang maybrat) punya cerita sejarah mitos tersendiri. Menurut orang-orang Maybrat, kain-kain ini diberikan oleh alam, melalui pristiwa-peristiwa alam, kain ini diberikan oleh  mata air, pohon dan lain-lain. Cerita-cerita lisan ini berkembang menjadi mitos yang dipercaya oleh masyarakat Maybrat. Mitos-mitos ini membuat kain-kain yang diwariskan oleh marga-marga tertentu kepada anak-anaknya menjadi kepercyaan yang hidup ditengah masyarakat Maybrat. Sejarah dan mitologi kain timur Maybrat ini semakin melegitimasi dan mempopulerkan kain Timor sebagai benda adat bernilai tinggi.

Fungsi Dan Manfaat Kain

Kain Timur bagi masyarakat Maybrat memiliki nilai guna sosial, ekonomi dan politik.  Kain Timur pada masa-masa sebelumnya berfungsi sebagai alat barter dalam perdagangan  tradisonal masyarakat Maybart. Aktivitas tukar menukar hasil bumi pertanian dan lain-lain, kain timur sering dijadikan alat bayar yang bernilai dan efektif. Dengan kain timor seseorang bisa mendapatkan keladi, sayur- sayuran, ikan, minuman tradisional (Sageru), bahkan digunakan untuk membeli dan membayar tanah garapan kepada keret tertentu atau yang disebut masyarakat Maybrat Mate Tabam (bayar tanah garapan/milik).

Selain berfungsi sebagai alat bayar dalam aktivitas perdagangan, kain Timur juga digunakan sebagai alat pembayaran mas kawin, upacaya adat dan lain-lain. Keadaan masyarakat Maybrat yang kala itu gemar konflik untuk saling menaklukan, kain timur menjadi sarana efektif untuk resolusi dan merekonsiliasi koflik. Pembunuhan, permasalahan muda-mudi kain timur berfungsi efektif untuk mendamaikannya. Bagi orang Maybrat penyelesaian konflik serta mencegah tetrjadinya konflik maka kain Timur yang dianggap bernilai tinggi harus diberikan sebagai kompensasi atas hilangnya nyawa orang. Fungsi kain Timur sebagai pendamai konflik dan pembayaran mas kawin masih berlaku hingga tahun 2016 saat ini. Jika ditelisik sekian kasus pembunuhan yang terjadi dimasyarakat, hukum positif Negara tidak efektif mendamaikan kelompok yang bertikai sehingga hukum adat dengan kain Timur masih menjadi pendamai yang efektif.

 

Filosofi Kain Timor  

Walaupun hanya benda berupa kain, namun kain Timur Maybrat terkandung makna filosofis yang tinggi. Pertukaran kain adat yang dilakukan masyarakat Maybrat secara turun-temurun mengikat kekerabatan sosial yang tinggi. Dari jalur pertukaran kain yang berpindah tangan ini menciptakan solidaritas sosial yang tinggi. Hal ini nampak jelas ketika salah satu dari anggota keluarga meninggal, sakit atau mengalami masalah kerabat jalur kain Timor akan berbondong-bondong meberikan bantuan materi dan lain-lain. Kain Timur dalam proses denda adat serta pembayaran mas kamwin mengandung nilai kebersamaan. Jika kita memahaminya dalam konteks konsep sosialis dan kapitalis, maka praktek sosialis maybrat kongkritnya adalah kain timur sebagai media pemersatu.

Dari aspek sosial masyarakat Maybrat merasa terpandang di komunitasnya, bagi mereka yang menyimpan kain yang berkelas mendapat status sosial yang tinggi atau sering disebut raa bobot. Strata sosial masyarakat Maybrat juga ditentukan oleh status kain yang dimiliki. Karena sulitnya mendapatkan kain klas tertinggi, masyarakat Maybrat tidak berlaku amoral, kasar bahkan jahat sebab tindakan merugikan sesame, sebab jika melakukan pelanggaran sosial seperti membunuh, mencuri akan di kompensasikan dengan kain berkelas yang hanya dimiliki oleh orang tertentu.

Konsekwensi sosial beruapa kain yang akan dibayarkan ini berfungsi efektif mengontrol perilaku hidup masyarakat Maybrat. Kaum muda-mudi bahkan orang dewas tidak bergaul bebas bahkan berhubungan sex bebas, sebab sangsi kain timur menjadi beban berat yang akan ditanggung. Bagi mereka yang tidak memiliki kain bernilai harus meminjam untuk membayar denda adat, hal ini menciptakan lingkaran utang yang panjang. Konsekwensi meminjam kain adat untuk membayar denda adat berimplikasi kepada pemberian hak tanah atau hak ulayat mereka. Maka konsekwensi kehidupan akan menjadi lebih berat.

Nilai filosofis kain timur lain adalah strategi pertukaran kain timur dengan mengunakan kain yang dianggap bernilai rendah menukarkan dengan mengharapkan pengantian kembali dengan kain bernilai lebih tinggi merupakan cirikhas kapitalisme kain timur. Prinsip-prinsip pengetahuan strategis lokal ini sering diadopsi kedalam dunia politik bahkan ekonomi generasi  Maybrat di era moderen saat ini. Hal ini bias diliat dengan adanya slogan-slogan uang kecil beli uang besar, modal kecil untung besar merupakan wujud nyata prinsip-prinsip pertukaran kain timur yang diadopsi dalam dunia bisnis.

Dibidang politik strategis khas lokal Maybrat juga sering dijadikan filosofi, prinsip dan strategi dalam membangun jaringan, basis politik. Membangun relasi dengan utang, menolong dengan kain timur dengan tujuan menjaga relasi dan aliansi ini juga diadopsi kedalam politik praktis moderen saat ini. Pada prinsipnya kain timur hanyalah benda tetapi bisa menhidupkan semua aspek dalam kehidupan orang Maybrat.

Kain Timor Maybrat Di Era Moderen

Diera moderen saat ini kain Timor dalam pandangan orang Maybrat masih menjadi aspek penting dan menduduki posisi tertinggi. Warisan budaya tutur tentang manfaat, makna kain timur terus ditransfer kepada generasi muda. Kita bisa menjumpai aktivitas menjual kain oleh generasi muda saat ini, kain dijual dalam bentuk rupiah bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Aktivitas pembayaran mas kawin bahkan denda adat konflik, urusan muda-mudi masih mengunakan kain timur sebagai sangsi dan kompensasi yang relefan.

Bahkan kain yang diwariskan kepada generasi muda dengan semua nilai filosofi yang diceritakan membuat anak-anak muda Maybrat saat ini menjadikanya sebagai suatu kembagaan sosial,  sebagai alat ukur nilai diri, suatu bentuk pemisah strata sosial. Dengan kain Timor anak-anak muda Maybrat mendefenisikan diri mereka sebagai pemimpin berbeda dikomunitas mereka, karena memiliki ilmu pengetahuan tetapi juga memiliki kain Timor, kedua legitimasi ini menjadi modal mencitrakan diri.

Meski diwariskan secara baik, namun ada bagian yang hilang yaitu fungsi relasi kain timur yang dulunya menyatukan orang Maybrat yang tinggal jauh maupun dekat, membentuk solidaritas sosial tinggi, menjaga harmoni sosial agar orang tidak bertindak semena-mena menjadi hilang. Prinsip-prisp kebersamaan, tolong menolong serta menghargai menjadi pudar. Kain timurpun diukur nilainya dengan uang rupiah, makna filosofis dan moral menjadi sirna dan suram. Peran pemerintah dan tetua adat diperlukan untuk meluruskan fungsi dan filosofi pokok kain timur dibutuhkan untuk memperkuat khasanah budaya dan adat isti adat Maybrat.

Anu raa yum, anu bsee, anu btak. Awia u anu oh fo, tija u ifo yoh fo.

Oleh: Agustinus.R.Kambuaya